Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Di zaman ilmu telah tersebar, akal lebih sering dipergunakan lebih dari hati. Saya yakin kebanyakan yang membaca postingan ini adalah orang yang mengedepankan akal. Lepaskanlah semua pemahaman Anda dulu. Lepaskanlah segala pembenaran yang menurut Anda benar, dan lepaskanlah semua pembenaran yang menurut Anda baik dan menurut Anda buruk.
Kamu ini diciptakan dengan hati yang memiliki rasa, itu adalah sebuah fitur untuk mengetahui kondisi tubuhmu di duniamu. Walaupun hati ini sebuah perasaan yang subjektif, itu adalah sesuatu yang di-anugerahkan dalam hidupmu. Bila kamu ini merasa diciptakan dengan hati yang memiliki rasa itu salah, ataupun tidak benar, Anda itu adalah seseorang yang hidup di lingkungan tanpa hati, ya sebutlah di area orang-orang apatis, mengedepankan filosofi, pikiran, teknis, bisnis, politis, dan sebagainya. Di lingkungan Anda, orang-orang ini didominasi oleh orang yang mempunyai disiplin atas ilmu dunianya, tidak jarang bila kamu menghadapi manipulasi, namun saya yakin, pernah Anda mengalami sebuah dilema, dimana sesuatu itu harus menjadi tuntutan, walaupun itu bertentangan dengan apa yang Anda rasa, meninggalkan kedua orang tua, mencari nafkah, stress karena bisnis. Anda merasa cemas, gelisah, bahkan merasa tidak berdosa di momen pada waktu itu.
Ilmu sains di zaman yang ada ini tidak mempunyai standar baik dan buruk. Tidak ada moral judgement yang membedakan baik dan buruk di kehidupan Anda untuk Anda sendiri. Matematika itu seluruhnya informasi mengenai ukuran di dunia ini, tidak ada tentang baik dan buruknya. Kimia juga Anda memahami mekanisme-mekanisme pada materi di dunia ini, tidak ada pembeda baik dan buruknya disaat Anda membuat material baru, walaupun itu bisa mencelakakan orang. Mempelajari filosofi mempunyai konsekuensi atas kebingungannya kamu disaat dipernyatakan tentang apa yang tidak bisa kamu jawab, sementara kamu dituntut untuk mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, sementara orang-orang tidak mengetahui tentang itu. Ilmu-ilmu dunia itu seperti sebuah alam, ketika kamu mengetahui isi dan pernak-pernik beserta isinya, kamu itu takjub atas itu, bahkan ingin lebih tahu didalamnya, tetapi kamu akan seperti orang yang tersasar di tengah hutan dikarenakan sesuatu yang tidak kamu ketahui, bahkan kamu bisa celaka karena ular berbisa di tengah hutan itu.
Disinilah kamu ini mempelajari segala hal di lingkungan sekitarmu, namun pembenaran itu selalu terbentuk atas kebenaran dirimu sendiri, seperti benar menurutmu, namun kamu tidak mengetahui apa konsekuensinya kepada makhluk yang lain selain dirimu, sebagian dari kamu ini menjadi apatis, sementara menghubungkan antar makhluk dengan baik itu tidak selalu hanya dengan pembenaran, dan perlu adanya empati. Rasakanlah apa yang orang rasakan, tidak perlu ada pikiran, belajarlah untuk mengerti dari apa yang disakiti oleh orang kepada Anda. Akal itu terkadang tidak bisa membaca sesuatu yang berbeda ini, hati namanya. Anda rasakan posisi orang lain yang berbeda dengan Anda, rasakanlah, dan tanyakan kepada mereka kenapa mereka menyakitimu seperti itu, apa yang dirasakan olehnya, dan pahami apa yang mereka rasakan. Hiduplah kamu dengan hati, jangan hanya mengandalkan otak dan filosofi pikiran atau ilmu saja. Kenali orang yang berbeda dari dirimu, tidak semua diri manusia itu sama. Hiduplah sehidup-hidupnya.