@flotozimanh | Notes
Bersyukur

Bersyukur, adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Sang Maha Pencipta. Banyak definisi mengenai kata syukur ini, salah satunya شَكَرَ – يَشْكُرُ yang berarti berterima kasih, menerima kasih yang diberikan dari Sang Maha Pencipta untuk para makhluk-Nya. Seperti yang terjewantahkan dalam QS Luqman [31] ayat 12:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَـٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌۭ ١٢

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji."

Dengan menerima segala nikmat dari Allah dan sebagai makhluk-Nya dapat berarti terpaparkan waktu dimana makhluk itu akan menerima segala apapun yang terjadi atas izin-Nya yang sesuai dengan ayat yang sangat populer dan ayat yang selalu diulang-ulang pada surat-nya, yaitu QS Ar-Rahman:

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ayat ini terulang sebanyak 31 kali pada QS Ar-Rahman pada ayat ke-13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77. Sebegitu banyaknya ayat yang terulang yang dijewantahkan Sang Maha Pencipta kepada makhluk-Nya dengan Al-Quran, karena benar dan telah sesuai bahwa:

۞ أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيَـٰرِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ ٱللَّهُ مُوتُوا۟ ثُمَّ أَحْيَـٰهُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ ٢٤٣

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, "Matilah kamu!" Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Pengakuan & Kenyataan

Bersyukur itu pada hal tertentu perlu mempunyai kesadaran yang sangat baik, perlu pengetahuan yang mumpuni, hingga sadar bahwa itu adalah benar pemberian dari Tuhan. Saya ini selalu ingat tentang perihal kotoran kambing satu karung yang dilemparkan kepada seseorang, seseorang yang menerima lemparan itu kemungkinan akan marah tersinggung bahwa ia dilempari kotoran tanpa sebab. Namun, sangat berbeda dengan halnya orang yang mengetahui bahwa kotoran itu adalah barang terurai yang akan dicerna kembali oleh tanaman hingga berbuah, ia memiliki pengetahuan untuk memaklumi dengan sadar bahwa sedemikian lah kotoran itu nantinya akan menjadi kompos yang akan berguna.

Proses mental inilah yang sebaiknya berjalan, mempertanyakan kepada diri-nya sendiri bahwa "kenapa orang itu harus melemparkan kotoran kambing satu karung kepada saya tanpa sebab?" bahwa ia mencari alasan yang tidak dan bukan terjawab dari pelaku, namun menalar apa yang sedang terjadi dan menerima apa yang telah terjadi itu. Terus terang saja, awal proses seperti ini sangatlah membuat frustrasi, tetapi terkadang sebenarnya membuat penasaran dan dapat membuat excited, bersemangat disaat engkau sudah dapat memanfaatkan apa yang telah diberikan itu. Dan inilah ultimatum atas kejadian itu:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ١٩٠

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. - QS Ali Imran [3:190-191]