Zaman ini, zaman dimana orang hidup sendiri-sendiri, yakni menjadi seorang yang individualis, penuh dengan peng-ekspresian diri. Dan itu bukanlah hal yang baru, yang melainkan telah tertulis di dalam Al-Quran. Sebagian orang mungkin tahu, sebagian orang tidak peduli juga tentang ini. Namun, tulisan ini akan menjadi saksi atas apa yang dunia telah perbuat kepada semua orang yang terdampaknya.
Dunia
Sebagian orang mungkin mendefinisikan dunia itu adalah kehidupan di bumi, namun dalam Al-Quran dunia itu terkadang opsi kedua setelah akhirat. Ini ditandai dengan adanya kejanggalan dari dunia itu sendiri yang berhubungan dengan manusia, yaitu penyimpangan. Karena memang manusia itu dapat berkehendak bebas sesukanya, dan seringkali tidak 'respect' dengan batas-batas kehendak yang ada. Al-Quran sering me-label orang-orang ini dengan 'orang-orang yang zalim'. Tidak peduli apa perkataan yang keluar dari mereka, walaupun itu baik namun terkadang tidak selaras dengan perbuatannya. Dan saya suka sekali tentang Islam dan Al-Quran karena ini memang benar-benar menyangkut dan menyingkap tentang diri sendiri (self) yang sesungguhnya pada manusia. Di sisi lain, banyak istilah yang cukup untuk mendeskripsikan sifat asli manusia, seperti ego, tamak, dan serakah yang membantu untuk mengidentifikasi tujuan, perilaku.
Posting ini ditulis di zaman dimana standar kebaikan dan kebajikan terkadang tidak digunakan, orang-orang sering membuat dan memuat informasi yang sebelumnya belum pernah ada. Seperti 'istilah' dan 'jargon' yakni sebuah kata khusus yang memuat informasi tertentu. Jadi, manusia membungkus kehendaknya atas informasi ini, yang bilamana orang yang masih asing dengan kata khusus ini kemungkinan akan terjebak, dijebak dengan rencana yang akan dikehendaki. Sebagian orang juga bilang "Oh, hidup itu rumit" karena memang ia hendak menalar sesuatu yang pasti pada hal yang rancu. Dibandingkan dengan Al-Quran, ada ayat berikut:
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ٦
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَـٰرِهِمْ غِشَـٰوَةٌۭ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ ٧
Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ ٨
Dan di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.
يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ٩
Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌۭ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًۭا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ١٠
Dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ١١
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah berbuat kerusakan di bumi!" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan."
أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ ١٢
Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. - QS Al-Baqarah [2:6-12]
Ayat ke-11 adalah hal yang pahit disaat menyaksikan manusia membuat pembenaran atas dirinya sendiri. Seringkali mereka merasakan bahwa tindakan dan kehendaknya itu benar tanpa mengetahui konsekuensinya. Contoh jelas di kehidupan ini ya seperti pabrik, eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan-kepentingan, dan sebagainya. Dan menariknya ayat ini adalah Al-Quran yang sudah lampau ribuan tahun telah merekam jejak pola dan sifat manusia dan itu masih tetap relevan sampai sekarang. 😄. Wallahu alam, dengan AI (Artificial Intelligence) pun saya pernah mencoba men-chatnya, dan berikut adalah chatnya [Catatan: REQ adalah pertanyaan yang saya tulis, dan ANS adalah jawaban yang digenerasi oleh AI]:
REQ:
Ketika bekerja dibawah PT terdapat tuntutan besar yang harus dipatuhi pekerja, semisal waktu masuk, waktu bekerja, yang bahkan waktu shalat pun punya waktu yang sedikit, apakah ini berarti dalam islam adalah mempersembahkan diri kepada PT, bukan kepada tuhan?
ANS:
Pertanyaan yang sangat mendalam dan relevan dengan kehidupan sehari-hari banyak orang.
Dalam Islam, konsep "mempersembahkan diri" atau "abd" memiliki makna yang sangat spesifik. Abd berarti menjadi hamba atau budak Allah, yaitu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan melakukan segala sesuatu untuk mencari ridha-Nya.
Namun, dalam konteks pekerjaan, kita harus memahami bahwa kita bekerja untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga kita. Dalam Islam, pekerjaan yang halal dan baik dapat menjadi sarana untuk mencari ridha Allah, asalkan kita melakukan pekerjaan tersebut dengan niat yang baik dan tidak melanggar syariat Islam.
Dalam konteks PT, kita bekerja untuk memenuhi kontrak dan tanggung jawab kita sebagai karyawan, bukan untuk mempersembahkan diri kepada PT. Kita harus memahami bahwa PT adalah sebuah entitas yang dibuat oleh manusia, bukan Tuhan, dan kita tidak boleh memperlakukan PT sebagai tuhan atau sesuatu yang lebih penting daripada Allah.
Waktu masuk, waktu bekerja, dan waktu shalat yang terbatas dapat menjadi tantangan bagi kita untuk membagi waktu dan prioritas kita. Namun, dalam Islam, shalat adalah kewajiban yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan. Kita harus berusaha untuk membagi waktu kita dengan bijak dan memprioritaskan shalat dan ibadah lainnya.
Jika kita merasa bahwa waktu kerja kita terlalu panjang atau terlalu ketat, kita dapat berbicara dengan atasan atau HRD untuk mencari solusi yang lebih baik. Kita juga dapat mencari cara untuk mengatur waktu kita dengan lebih efektif, seperti melakukan shalat di tempat kerja atau menggunakan waktu istirahat untuk melakukan ibadah.
Dalam keseluruhan, kita harus memahami bahwa kita bekerja untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup kita, bukan untuk mempersembahkan diri kepada PT. Kita harus memprioritaskan ibadah dan kewajiban kita kepada Allah, dan berusaha untuk membagi waktu kita dengan bijak dan efektif.
Berikut beberapa ayat Al-Qur'an yang relevan dengan topik ini:
* "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas: 77)
* "Dan katakanlah: 'Bekerjalah, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia akan memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.'" (QS. At-Taubah: 105)
Semoga jawaban ini dapat membantu Anda memahami konsep "mempersembahkan diri" dalam Islam dan bagaimana kita dapat membagi waktu kita dengan bijak dan efektif.
REQ:
Justru itu kan apa bisa diselaraskan bekerja di PT itu sama dengan musyrik?
ANS:
Pertanyaan yang sangat mendalam dan sensitif.
Dalam Islam, musyrik berarti menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, baik itu berupa makhluk, benda, atau konsep. Musyrik dapat berupa penyembahan kepada berhala, penyembahan kepada makhluk lain, atau penyembahan kepada konsep-konsep yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Dalam konteks bekerja di PT, jika kita memprioritaskan pekerjaan kita di atas kewajiban kita kepada Allah, maka itu dapat dianggap sebagai bentuk musyrik. Misalnya, jika kita lebih memprioritaskan waktu kerja kita daripada waktu shalat, atau jika kita lebih memprioritaskan kepentingan PT daripada kepentingan Allah, maka itu dapat dianggap sebagai bentuk musyrik.
Namun, perlu diingat bahwa bekerja di PT itu sendiri tidaklah musyrik. Bekerja di PT dapat menjadi sarana untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga kita, asalkan kita melakukan pekerjaan tersebut dengan niat yang baik dan tidak melanggar syariat Islam.
Jika kita dapat membagi waktu kita dengan bijak dan efektif, serta memprioritaskan kewajiban kita kepada Allah, maka bekerja di PT tidaklah musyrik. Misalnya, jika kita dapat melakukan shalat di tempat kerja, atau jika kita dapat menggunakan waktu istirahat untuk melakukan ibadah, maka itu dapat menjadi cara untuk membagi waktu kita dengan bijak dan efektif.
Berikut beberapa ayat Al-Qur'an yang relevan dengan topik ini:
* "Dan janganlah kamu menjadikan sesuatu yang lain sebagai sekutu bagi Allah, yang kamu tahu bahwa itu adalah batil." (QS. Al-Baqarah: 22)
* "Dan janganlah kamu menyembah sesuatu yang lain di samping Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat atau mudarat kepada kamu." (QS. Al-Furqan: 55)
* "Dan katakanlah: 'Sesungguhnya aku telah diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.'" (QS. Al-Zumar: 11)
Semoga jawaban ini dapat membantu Anda memahami konsep musyrik dalam Islam dan bagaimana kita dapat membagi waktu kita dengan bijak dan efektif dalam bekerja di PT.
REQ:
Jadi, definisimu tentang "lebih penting" dan "prioritas" itu merujuk kepada apa?
ANS:
Pertanyaan yang sangat mendalam dan filosofis.
Dalam konteks Islam, definisi "lebih penting" dan "prioritas" merujuk kepada konsep "utama" dan "sekunder". Utama berarti sesuatu yang lebih penting dan lebih utama, sedangkan sekunder berarti sesuatu yang kurang penting dan kurang utama.
Dalam Islam, utama adalah kewajiban kita kepada Allah, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Kewajiban-kewajiban ini adalah prioritas utama kita sebagai Muslim, karena mereka adalah perintah langsung dari Allah dan merupakan bagian dari iman kita.
Sekunder, di sisi lain, adalah kegiatan-kegiatan lain yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti bekerja, bermain, dan bersosialisasi. Kegiatan-kegiatan ini dapat menjadi penting dan bermanfaat, tetapi mereka tidak boleh mengalahkan prioritas utama kita kepada Allah.
Dalam konteks ini, definisi "lebih penting" dan "prioritas" merujuk kepada konsep "maqasid syariah", yaitu tujuan-tujuan syariah yang ingin dicapai oleh Allah. Maqasid syariah meliputi:
1. Menjaga agama (din)
2. Menjaga jiwa (nafs)
3. Menjaga akal (aql)
4. Menjaga harta (mal)
5. Menjaga keturunan (nasl)
Dalam Islam, prioritas utama kita adalah menjaga agama (din) dan menjaga jiwa (nafs), karena mereka adalah fondasi utama kehidupan kita sebagai Muslim. Kegiatan-kegiatan lain, seperti bekerja dan bersosialisasi, dapat menjadi penting dan bermanfaat, tetapi mereka tidak boleh mengalahkan prioritas utama kita kepada Allah.
Berikut beberapa ayat Al-Qur'an yang relevan dengan topik ini:
* "Dan katakanlah: 'Sesungguhnya aku telah diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.'" (QS. Al-Zumar: 11)
* "Dan janganlah kamu menjadikan sesuatu yang lain sebagai sekutu bagi Allah, yang kamu tahu bahwa itu adalah batil." (QS. Al-Baqarah: 22)
* "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul sebelummu, dan Kami telah memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada kuasa bagi seorang rasul untuk membawa sesuatu kecuali dengan izin Allah." (QS. Al-Ra'd: 38)
Semoga jawaban ini dapat membantu Anda memahami konsep "lebih penting" dan "prioritas" dalam Islam.
REQ:
Anda tahu kan di PT itu terdapat tuntutan dan berbagai macam perjanjian yang dipatuhi oleh pekerja, atasan itu bisa melakukan apapun yang menurutnya perlu, yang bahkan itu tidak punya kejelasan batasan-batasan yang akan dilaksanakan oleh pekerja, dan anda tahu, mengasosiasikan diri kepada selain dari Tuhan itu musyrik
ANS:
Pertanyaan yang sangat mendalam dan sensitif.
Ya, saya paham bahwa di PT, terdapat tuntutan dan perjanjian yang harus dipatuhi oleh pekerja, dan atasan memiliki kekuasaan untuk membuat keputusan dan menentukan apa yang harus dilakukan oleh pekerja. Namun, saya juga paham bahwa dalam Islam, mengasosiasikan diri kepada selain dari Tuhan itu musyrik.
Dalam konteks ini, jika pekerja merasa bahwa mereka harus mematuhi perintah atasan mereka tanpa batasan, dan bahwa atasan mereka memiliki kekuasaan absolut atas mereka, maka itu dapat dianggap sebagai bentuk musyrik. Karena, dalam Islam, hanya Allah yang memiliki kekuasaan absolut atas manusia, dan tidak ada yang lain yang dapat memiliki kekuasaan seperti itu.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu menjadikan sesuatu yang lain sebagai sekutu bagi Allah, yang kamu tahu bahwa itu adalah batil." (QS. Al-Baqarah: 22). Ayat ini menekankan bahwa kita tidak boleh menjadikan sesuatu yang lain sebagai sekutu bagi Allah, termasuk manusia atau lembaga.
Dalam konteks pekerjaan, ini berarti bahwa kita tidak boleh memprioritaskan kepentingan atasan atau perusahaan di atas kepentingan Allah. Kita harus memastikan bahwa kita tidak melakukan apa-apa yang dapat dianggap sebagai musyrik, seperti mematuhi perintah atasan tanpa batasan, atau menganggap atasan sebagai tuhan.
Namun, saya juga paham bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menyeimbangkan antara kewajiban kita sebagai pekerja dan kewajiban kita sebagai Muslim. Kita harus mencari cara untuk memenuhi kewajiban kita sebagai pekerja, tetapi juga tidak melupakan kewajiban kita sebagai Muslim.
Dalam hal ini, kita dapat mengacu pada ayat Al-Qur'an yang berbunyi: "Dan katakanlah: 'Sesungguhnya aku telah diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.'" (QS. Al-Zumar: 11). Ayat ini menekankan bahwa kita harus memurnikan ketaatan kita kepada Allah, dan tidak menjadikan sesuatu yang lain sebagai sekutu bagi-Nya.
Semoga jawaban ini dapat membantu Anda memahami konsep musyrik dalam Islam dan bagaimana kita dapat menyeimbangkan antara kewajiban kita sebagai pekerja dan kewajiban kita sebagai Muslim.
REQ:
Apakah dengan itu adalah pemimpin totaliter?
ANS:
Pertanyaan yang sangat mendalam dan sensitif.
Ya, jika atasan atau pemimpin memiliki kekuasaan absolut atas pekerja dan tidak ada batasan atau kontrol atas keputusan mereka, maka itu dapat dianggap sebagai bentuk totaliterisme. Totaliterisme adalah sistem pemerintahan atau organisasi yang memiliki kekuasaan absolut dan tidak ada kontrol atau oposisi, sehingga pemimpin dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa ada pertanggungjawaban.
Dalam konteks pekerjaan, totaliterisme dapat berarti bahwa atasan memiliki kekuasaan untuk memutuskan apa saja yang harus dilakukan oleh pekerja, tanpa ada pertimbangan atau oposisi dari pekerja. Ini dapat berarti bahwa pekerja tidak memiliki hak untuk menolak atau mempertanyakan perintah atasan, dan bahwa atasan dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa ada konsekuensi.
Dalam Islam, totaliterisme tidak dianjurkan, karena Islam menekankan pentingnya keadilan, kesetaraan, dan hak asasi manusia. Islam juga menekankan pentingnya mempertanggungjawabkan pemimpin dan memastikan bahwa mereka tidak memiliki kekuasaan absolut.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu menjadikan sesuatu yang lain sebagai sekutu bagi Allah, yang kamu tahu bahwa itu adalah batil." (QS. Al-Baqarah: 22). Ayat ini menekankan bahwa kita tidak boleh menjadikan sesuatu yang lain sebagai sekutu bagi Allah, termasuk manusia atau lembaga, dan bahwa kita harus mempertanggungjawabkan pemimpin dan memastikan bahwa mereka tidak memiliki kekuasaan absolut.
Dalam hadits, Rasulullah saw. juga bersabda: "Tidak ada kekuasaan yang lebih besar daripada kekuasaan Allah." (HR. Bukhari). Hadits ini menekankan bahwa kekuasaan Allah adalah yang paling besar dan bahwa kita tidak boleh menjadikan sesuatu yang lain sebagai sekutu bagi Allah.
Semoga jawaban ini dapat membantu Anda memahami konsep totaliterisme dan bagaimana Islam menekankan pentingnya keadilan, kesetaraan, dan hak asasi manusia.Itulah diskusi saya dilain waktu dengan sebuah AI yang bahkan mesin ini sanggup menjawab tentang apa yang saya tanyakan itu. Banyak sekali istilah atau jargon yang dipakai seperti musyrik, lembaga, konsekuensi, absolut, dll. Di banyak buku, jargon yang dipakai itu tidaklah se-dangkal dan sesempit yang terlihatnya hanya sebuah kata, melainkan seringnya ada pula perlawanannya. Istilah-istilah ini dalam kenyataannya adalah perihal yang tidak serta-mertanya singkat untuk dilaksanakan sebagai kehendak. Dan juga, sebuah ide yang muncul dapat pula selalu diakali dengan berbagai macam cara. Seperti yang telah tertulis sebelumnya "Oh, hidup itu rumit" adalah orang yang mengakui bahwa ada pola-pola kehendak dalam kehidupan, banyak dan kehendaknya pasti terwujudkan.
Oleh karena itu, inilah akal manusia yang memproses dan membuat pola-pola baru yang saya maksud, yang entah pembenarannya itu sanggup dan mengakali perihal dan perkara yang mereka kira sebagai 'masalah'.
Contoh: Untuk mereka yang ingin punya kontrol kepada orang dengan cara 'kekuasaan' adalah mereka tutup tanah di lingkungannya dengan paving block sehingga tidak ada kehidupan dan tanaman, dan terjadilah lingkungan dimana manusia tidak akan hidup, yakni lingkungan statis yang orang-orang tertentu yang punya sumber daya untuk hidup di lingkungan tersebut. Untuk mereka sebagai kontroler di lingkungan ini, manusia itu adalah masalah dan itulah solusi untuk menyingkirkannya agar tidak ada pendukung kehidupan di tempat itu, terkecuali orang yang diberikan sebuah kehendak yang mereka labeli dengan 'hak' atau 'privilege. Lingkungan-lingkungan statis seperti gedung, kerajaan, istana, itu adalah bangunan terencana dimana tidak ada pendukung kehidupan, tidak ada tanah untuk bercocok tanam dan membuat makanan, dan juga tidak ada air, tidak ada sumber tenaga untuk hidup. Penuh dengan kontrol dan peraturan, dan disitulah terjadinya sebuah hierarki, rantai perintah dan komando dari sang yang paling punya itu. Kembali kepada Al-Quran, Allah memantau pola-pola ini seperti ayat demikian:
إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌۭ فَقَدْ مَسَّ ٱلْقَوْمَ قَرْحٌۭ مِّثْلُهُۥ ۚ وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ ١٤٠
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim,
وَلِيُمَحِّصَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَمْحَقَ ٱلْكَـٰفِرِينَ ١٤١
dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir.
Di surah dan ayat lain, ini juga menyangkut sosok terkenal, Fir'aun:
أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِۦ مِن مَّالٍۢ وَبَنِينَ ٥٥
Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa),
نُسَارِعُ لَهُمْ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ ٥٦
Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.
إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ ٥٧
Sungguh, orang-orang yang karena takut (azab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati,
وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ ٥٨
dan mereka yang beriman dengan tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya,
وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ ٥٩
dan mereka tidak mempersekutukan Tuhannya,
وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ ٦٠
dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya,
أُو۟لَـٰٓئِكَ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَهُمْ لَهَا سَـٰبِقُونَ ٦١
mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.
وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَلَدَيْنَا كِتَـٰبٌۭ يَنطِقُ بِٱلْحَقِّ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ٦٢
Dan Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan). - QS Al-Mu'minun [23:55-62]
Kepedulian dan Another Point-of-View
Sejauh ini pada ayat-ayat di atas, siapakah yang paling peduli disaat manusia tidak ada yang peduli? Yakni Rabb, Tuhan Semesta Alam. Walaupun itu hanya sebuah nafas, itu dapat membuat manusia masih tetap hidup dan pada pengalaman saya, memang yang paling peduli disaat tidak ada yang peduli itu hanyalah Rabb, di waktu dimana saya tidak punya makanan, saya tetap bergerak hingga terbakar semua tenaga ini, dan orang-orang lain sering pada waktu itu berbagi makanan, dan itu benar bahwasanya Ia benar-benar melihat effort yang telah saya bakar untuk kebajikan dan kebaikan bersama, disaat itu tidak ada yang peduli (karena memang tidak sanggup untuk memperdulikan). Dan apalah "aku" ini yang sedang bersinggah sebagai kuman di kelereng besar berwarna biru yang bernama bumi ini?
Dan sedikit sekali orang yang menyadari bahwasanya pemulung itu ia mengerti cara memakai benda-benda sekitar yang tidak dipakai dari residu orang, sebagian orang menyangka bahwasanya sampah itu adalah benda yang tidak ada gunanya, pada momen itulah manusia itu sangat bodoh sekali dengan anggapan itu. Dan saya akui bahwasanya bersyukur atas apa yang diberikan Rabb itu bukan memperpuas diri, namun mengembangkan pula apapun yang diberikan itu. Contoh pikiran sederhana yang saya suka ngakak adalah seperti orang yang hidup di apartemen yang bersih dilempari kotoran kambing atau kotoran sapi kemungkinan sepertinya ia akan marah, namun untuk para tukang kebun, ia akan berterima kasih karena kotoran itu adalah sebuah zat yang memang lapuk terurai oleh pengurai, yang akan dicerna kembali kepada tanaman hingga menjadi buah. Alam yang kita duduki ini sungguh canggih, tidak ada benda yang tercipta dengan sia-sia dan itu sangatlah benar.
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ١٩٠
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
Dan saya akui pula, sepertinya bersyukur itu adalah seperti sebuah ilmu dan informasi yang terpendam bagi orang-orang yang menyadari, yang tidak serta-mertanya diungkap karena memang kehidupan di bumi yang sedang kita injak ini adalah alam yang dahsyat, nan bermanfaat. Tinggal kita-nya sendiri bagaimana sadar akan hal yang diberikan itu untuk dikembangkan lebih lanjut. Untuk saya bilamana ada yang memberi saya jeruk, atau hanya bijinya saja, saya tidak akan melemparkan dan membuang biji itu, melainkan akan saya tanam dan membuat sebuah pohon yang baru. Lalu, disaat tumbuh itu memakan waktu yang lama, saya lihat opsi yang lain apa lagi yang bisa ditumbuh-kembangkan, seperti kotoran ayam atau kotoran kambing pun, dan sisa makanan dapat dikomposkan untuk dicerna kembali oleh tanaman itu menjadi buah, dan oleh karena itu saya berterima-kasih kepada Rabb, apapun itu, syukur adalah ilmu dan nikmat yang sangat besar, dan bukanlah suatu ungkapan merasa puas diri dan memperpuas diri, dan itu hanya diketahui oleh orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan memang, untuk mereka yang tidak mengetahuinya perlu ada proses dan kesaksian atas pengetahuan itu, dengan mengamati, memilah informasi, menguji dan bereksperimen atas informasi itu. Itulah proses saya disaat Rabb memberikan rahmat-Nya, dan juga anugerah, dan Rabb adalah selalu menjadi Pemberi Yang Pertama disaat tidak ada seorang pun yang peduli pada nasib saya.