Manusia dihadapkan kepada kenyataan dan permainan di dunia dan seringkali ada momen disaat progres daripada tujuan menjadi terhambat. Allah secara gamblang menyebut diri-Nya untuk memerintahkan manusia berdo'a:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠
Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." - QS Al-Ghafir [40:60]
Seperti yang saya sebut di posting sebelumnya, seringkali manusia itu adalah keterbalikan dari perintah di Al-Quran, yakni bisa jadi manusia jarang berdo'a kepada Rabb-nya dan tentang sombong adalah tercantum pada ayat yang lain yang Allah sendiri tidak menyukai sifat itu pada manusia:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍۢ ١٨
Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. - QS Luqman [31:18]
Dalam Kenyataan
Dalam sebuah do'a terkadang manusia tidak tahu bila yang diajukan itu keinginan atau kebutuhan. Bahkan ketika keinginan itu adalah sebuah beban (mis. harta), Allah boleh jadi memberikan seseorang jalan yang sukar atau waktu yang sulit, atau waktu yang belum pernah dialami semasa orang itu hidup, karena semenjak harta telah Allah tetapkan sebagai fitnah pada surat Al-Anfal ayat 28, dengan itu seseorang akan menempuh waktu yang cukup menguras tenaga untuk me-manage semua kekayaannya (bila dilakukan tanpa zakat), belum lagi ada pemain lain yang dapat memerangi dan akan merampas harta itu, dan boleh jadi pula orang yang merampas hartanya adalah orang yang diperintahkan oleh Allah, sementara disaat itu tidak diketahui. Di waktu-waktu itulah kesulitan apa yang diberikan kepada manusia sebagai respons itu manusia sedang berhadapan dengan Rabb-nya. Jadi, seseorang hendaknya tahu betul apa yang ia minta kepada Rabb-nya, maksudnya apakah yang ia minta sesuai dengan hukum-Nya, ataukah bertentangan. Sejauh ini yang saya rasakan dan yang saya alami, salah satu cara Rabb berinteraksi kepada manusia adalah dengan waktu, kejadian-kejadian yang terkadang pula belum dimengerti oleh manusia. Dan itu sering sekali terjadi pada para nabi sebelumnya, seperti disaat Nabi Musa a.s sedang diwahyukan di bukit dan melihat sebuah api.