@flotozimanh | Notes
Cakupan Kata Pada Semesta Alam

Jagad raya dan segala isinya adalah masterpiece yang bahkan tidak dapat diremehkan apapun itu. Sebongkah kecil batu kerikil pun mempunyai makna tanpa syarat dan pengakuan. Dalam keadaan yang sepenuhnya menyadari, yang ada ini adalah sebuah ketiadaan pada yang tadinya Ada. Kata pada manusia yang tersusun tidaklah mencakup makna dibalik apa yang ada, walaupun mereka telah mencobanya.

Apa yang dibanggakan dengan tingginya ilmu bila diri sudah diketahui bahwa itu hanyalah kata, informasi yang termuat dan terjewantahkan. Seseorang menamai sesuatu dengan kehendak yang bahkan tidak diketahuinya Sang Maha Pencipta belum menghendakinya, seolah-olah hanya menjadi sebuah 'ilusi' dari anggapan yang dimuatnya sendiri. Seseorang disaat ditanya "siapakah engkau" dan menjawab 'saya seorang guru', 'saya seorang insinyur', 'saya seorang professor' adalah bukan diri dia sendiri, melainkan apa yang dia lakukan semasa hidupnya. Sang kata "Aku" dan "Saya" ini mendefinisikan dirinya sendiri "aku adalah ..." hanyalah sebuah pengakuan, mengaku-mengakui namun tidak tahu siapa sebenarnya dia. Dan sangat disayangi sebagian dari mereka sering berdalil, yang itu adalah membuka diri untuk diuji oleh individu lainnya. Tidak sedikit orang berdalil sering diuji, disaat 'keilmuan'-nya keluar atas dasar pembenaran. Terbongkarnya ilmu yang dijewantahkan mengobrak-abrik bumi, bahkan langit. Lalu, apa yang dibanggakan pula apabila itu awalnya adalah secarik informasi yang terbuat didalam benak? Kehendak yang terbuat dari susunan kata hingga menjadi jargon hanya jadi sebuah bungkus untuk meng-obfuskasi sesuatu menjadi ketidakjelasan, kebohongan, tipu daya, dan sebagainya. Menyedihkan.

Alam semesta ini dahsyat, sangat dahsyat dibandingkan manusia dan benaknya. Hati nurani perlu ada untuk mengelola kehidupan, semua itu perlu kesadaran yang cukup untuk terlaksananya kebajikan, walaupun sebagian kecil orang tidak suka dengan itu. Seseorang ingin mundur, terjerumus, ingin kekacauan dan kesengsaraan kepada individu yang lain eksis, namun alam semesta mendukung untuk menangkis semua itu, bisa. Keduanya, baik dan buruk mesti seimbang dan bila salah satunya sudah habis, itu adalah hari kiamat. Ego, ke-angkuhan, dan ketamakan adalah sifat musuh utama umat manusia, alih-alih terbungkus kedalam satu kata lainnya, agenda menjadikan satu keputusan itu adalah sebuah satu keputusan besar golongan yang egois. Bumi ini suci, dunia itu tidak suci. Bumi dibuat menderita dan disaat waktunya telah tiba, ia memuakkan kemarahan-nya atas manusia-manusia ini. Pun ilmu perlu dibagi kepada orang yang berhati nurani, jangan sampai orang menjadi mulia tetapi tidak terpuji dan beradab.

Seperti Dialog Adam a.s Dengan Rabb-Nya, Sang Maha Melihat, Maha Bijaksana selalu mengerti kondisi makhluk-Nya, walaupun ia mengerti tetapi Dia-lah yang paling mengerti atas kehendak-Nya, terkadang manusia merasakan ia adalah paling benar. Dan itu adalah pertentangan apa yang sebenarnya ia hadapi kepada Tuhan-nya. Memang seperti itulah realita kehidupan ini, beralasan apapun tidak akan ada gunanya kepada yang Maha Mengetahui. Dia mengetahui isi segala hati pada manusia, yang dirahasiakan pula. Kita dipantau dalam realitas ini untuk ditujukan kepada kebajikan, dan untuk menyembah-Nya tanpa syarat dan keinginan. Dan Dia adalah Yang Maha Melihat segala sesuatu, karena itu sudah sepantasnya lah segala makhluk itu MENGAKUI bahwa tidak ada kuasa selain daripada-Nya.