@flotozimanh | Notes
Terkadang, Kesulitan Hidup Itu Hanyalah [Karena] Selera

Ya, orang berbondong-bondong mencari kesejahteraan dan kesenangan di dunia, memiliki harta yang banyak dengan upaya yang begitu menghabisi banyak tenaga dan korban. Tidak jarang di tengah perjalanan itu ada banyak yang dikorbankan, entah itu jiwa, atau bahkan nyawa sekalipun demi mendapatkan kesenangan itu untuk hidup. Orang sukses yang berbisnis, di tengah prosesnya ada sekali banyak pengorbanan kegagalan, memakan umur (waktu) pula, selera mereka adalah ingin menjadi orang dengan harta. Raja-raja memimpin bangsanya dan mereka rawat walaupun itu dapat mengganggu jiwanya karena ia memantau segala apapun yang terjadi pada rakyatnya. Para aktris dituntut untuk tampil selalu baik didepan audiens demi menjaga nama nya. Pun orang tua yang menginginkan sebuah keturunan demi meciptakan keluarga yang harmonis ternyata berujung konflik dengan anak dan saudaranya sendiri.

Mereka bangga atas apa yang dilakukannya itu, padahal apa yang dilakukannya itu benar-benar mengorbankan banyak sekali energi dan kerugian atas dirinya sendiri dan kepada orang lain. Mereka secara sadar melakukan kesenangan, dan disisi lain ia pula melakukan kehancuran kepada individu yang lain secara senyap. Dan terkadang aku mempertanyakan semua ini kenapa ini selalu berulang, setiap saat, walaupun sebenarnya manusia sudah melihat di depan mata kepalanya sendiri bahwa seleranya itu akan membebani hidupnya. Kenapa harus diusahakan untuk menjadi terkenal, padahal yang dibutuhkan itu sebenarnya makanan dari tanah, kenapa harus mencari harta, anak dan pengikut yang banyak padahal yang dibutuhkan itu ketenangan jiwa?

Orang-orang sangat yakin sekali bila mereka mempunyai banyak harta dan anak, mereka akan hidup lebih bahagia, meskipun yang sebenarnya terjadi adalah membebani dirinya sendiri demi mengelola itu semua, demi mempertahankan nama, demi menjaga keberadaan. Untuk mereka yang tidak mengetahui harta adalah fitnah, dia akan menganggap itu adalah selera yang menyenangkan, hingga akhirnya ikut-ikutan dengan pengetahuan yang minim dalam menghandle segala apa yang dimilikinya itu hingga terjadilah musibah, yang dikarenakan perbuatan ia sendiri.

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَـٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًۭا جَهُولًۭا ٧٢

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu amanah itu dipikul oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh, - QS Al-Ahzab [33:72]