Seperti sebuah kutipan "Knowledge is abundant. Wisdom is scarce". Ibaratnya, seperti orang yang menggunakan sebuah alat yang mempunyai fungsi, orang bisa saja memakai alat itu, mempelajarinya, dan menggunakan alat itu. Seperti pisau, bisa saja orang menggunakan pisau untuk mengelupas buah, memotong daging. Namun apa yang terjadi bila orang yang menggunakan pisau itu hendak dan berniat untuk menusuk orang?
Fase 'Penuntut' Ilmu
1. Aku Sudah Belajar Banyak Hal, Aku Mengetahui Banyak Hal
Tingginya diri setelah meraih pengetahuan adalah jurang awal seseorang bila diri sudah meraih informasi yang biasanya orang tidak tahu. Ego, arogansi menjadi penghancur (mungkin pengundang untuk dihancurkan) dari awal bahwa orang itu akan dibinasakan. Disini fase yang banyak hal abusive terjadi, banyak kehancuran dimana mana disebabkan tangan dan perkataan dari mulut yang keluar. Bumi dipakai untuk dieksploitasi dan dimanfaatkan hanya sebatas untuk kenikmatan pribadi. Membuat rekayasa untuk memperoleh kekayaan dari banyak orang, juga menindas, mendiskreditkan orang yang lemah.
2. Aku Sudah Menggenggam Ilmu Itu, Tetapi Ada Sesuatu Yang Tak Aku Ketahui
Adalah sebuah pengalaman setelah seseorang masa fase pertama ditempa tentang sesuatu yang diketahuinya, dan terkadang sesuatu yang benar-benar tidak diketahui oleh dirinya, disinilah sedikit-sedikit humility itu muncul, dan muncul kesadaran bahwa dari sekian banyaknya informasi yang termuat, ternyata setelah dituntut untuk menjawab ia tidak bisa menjawabnya. Selain itu pula, mereka menerima perbuatan dahsyat orang-orang fase ketiga untuk diadili dan ditempa untuk menjadi lebih bijaksana dalam penggunaan pengetahuannya.
3. Banyak Yang Ku Tidak Ketahui, Aku Tidak Tahu Apapun
Setelah menempuh fase kedua, mulailah mempelajari dan menyelam kepada sesuatu yang tadinya tidak diketahui sama sekali, tidak ada seorang pun yang mengetahui yang Anda sedang pelajari. Mulailah masa menyelami, dan mendalami apa yang tidak diketahui tersebut. Satu persatu hal mulai muncul, yang bahkan apa yang ditemukan itu tidak diketahui apa namanya. Humility adalah hal yang total disini, dengan kesadaran penuh atas apa yang telah ditemukan dan diketahui adalah sesuatu, tidak, mungkin satu tetes air dari luasnya samudra ilmu. Benar-benar tidak diketahui, tidak tahu apa, mengapa, dan bagaimana.
Menurut Saya Tentang Ilmu
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًۭا ٨٥
Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." - QS Al-Isra [17:85]
Menurut saya, ilmu bukanlah sesuatu yang diketahui oleh satu individu. Bukanlah sesuatu yang 'seluruhnya' diketahui pada seseorang, melainkan ada seseorang yang lain yang tahu tentang apa yang Anda tidak tahu. Anda mungkin tahu sesuatu yang saya tidak ketahui, dan saya mungkin tahu apa yang Anda tidak ketahui. Disini, sifat busuk itu sebenarnya tidak perlu keluar, bumi ini sudah diisi dengan banyak pemain, jadi, saling mengenal dan mengetahui batas diri adalah hal utama untuk saling berinteraksi satu sama lain. Dengan begitu, ketentraman ini akan sangat baik mewujudkan sebuah harmoni dalam sebuah perbedaan.